Kedokteran tidur berkembang 50 tahun belakangan ini, namun sudah banyak kemajuan yang dicapai dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, penelitian, dan teknologi yang mendukung. Maka, tak heran jika proses tidur dan berbagai gangguan tidur pun semakin banyak diketahui. Banyak dari keluhan sehari-hari yang tak pernah dikaitkan dengan kebiasaaan tidur, ternyata merupakan gejala gangguan tidur. Keluhan keluhan tersebut seperti sakit kepala di pagi hari, rasa cepat lelah, kantuk berlebih, penurunan konsentrasi, hipertensi, dan masih banyak lagi. Namun, kurangnya perhatian terhadap tidur mngakibatkan orang orang tidak pernah terpikir untuk menghubungkannya dengan gangguan tidur. Tahukah anda bahwa anda mendengkur saaat tidur, jika tidak diberi tahu oleh orang lain ?
Prof. William C. Dement, pakar kesehatan tidur, percaya bahwa untuk menjaga kesehatan, seseorang harus memperhatikan tiga komponen utama, yaitu, kesehatan fisik, keseimbangan nutrisi, dan tidur yang sehat. Dunia kesehatan mengenal konsep ini sebagai he Triumvirate of Health.
Pemikiran tentang tidur terdapat berserakan di sepanjang sejarah kehidupan manusia. Kepercayaan tradisional banyak berkembang di seputar proses penuh misteri ini seperti tafsir mimpi, atau ketika tidur, jiwa berkelana menjelajahi semesta. Beberapa pemikir pemikir ternama juga menyumbangkan idenya tentang proses seputar tidur dan mimpi, seperti Aristoteles, Hippocrates, Freud, dan Pavlov.
Perkembangan ilmiah yang penting terkait dengan kedokteran tidur, antara lain :
- Richard Caton, merekam aktivitas otak dengan EEG (elektroensefalografi)
- Loomis dkk., menggunakan EEG untuk merekam aktivitas otak saat tidur. Penelitian Loomis menghasilkan dasar dasar penggolongan tahapan tidur.
- Kleitman dan Aserinsky, mengungkap tahapan tidur REM dan hubungannya dengan mimpi.
- Kleitman dan Dement, mengemukakan dasar dasar kedokteran tidur berupa arsitektur tidur yang menyempurnakan penggolongan tahapan tidur menjadi 3 tahap NREM (baca : non REM) dan 1 taham REM. Dimulai dengan tidur ringan di tahap N1, semakin dalam ke tahap N2 hingga N3, kembali ke tahap N2, lalu jatuh bermimpi pada tahap tidur R (REM) dan kembali ke tahap N2 dan seterunya. Siklus ini terus berulang selama tidur.
Pada tahun 1965, dua kolompok peneliti dari jerman dan prancis secara terpisah mempublikasikan penemuan mereka tentang Sleep Apnea. Deskripsi mengenai penderita sleep apnea sudah ada sejak lama. Burwell dan kawan kawan menggambarkannya sebagai Pickwickian Syndrome. Istilah tersebut diambil dari karakter tokoh Joe Gendut, dari Koran Pickwick, yang pemalas, selalu mengantuk, ceroboh, absent minded, dan mendengkur. Sayangnya, tanda tanda yang begitu jelas ini luput dari pengamatan para dokter di masa itu. Penyebabnya tak lain karena tidak adanya tradisi mengamati tidur pasien pada disiplin ilmu mereka.
Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan kepedulian terhadap kesehatan tidur, disadarilah bahwa sleep apnea merupakan gangguan yang diderita secara luas. Hal ini lah yang menjadi pendorong berkembangnya ilmu kedokteran tidur di seluruh dunia.
Penyebab dan faktor faktor yang terkait dengan gangguan tidur pun semakin dikenali. Para dokter dan peneliti di bidang kesehatan semakin terpacu untuk mendalami dan mengenali kelainan kelainan dalam tidur dan berusaha mencari solusinya. Tak heran jika pusat pusat penelitian dan penanganan gangguan tidur di Amerika bermunculan di mana mana. Pada akhirnya terungkap fakta bahwa jutaan orang menderita gangguan tidur tanpa mereka sadari.
Bapak kedokteran Tidur
Masa 1960-an dianggap sebagai tonggak awal berkembangnya kedokteran tidur. hal ini ditandai dengan digunakannya Polisomnografi (PSG) sebagai alat pemeriksaan proses tidur secara klinis. selain itu, pada masa tersebut penelitian-penelitian yang diprakarsai oleh Prof. William berhasil menemukan berbagai macam gangguan tidur, antara lain hipersomnia (kantuk berlebih) sebagai gejala gangguan tidur dan narkolepsi sebagai gangguan tidur pertama. Penemuan lain berupa adanya laboratorium tidur untuk memeriksa efektivitas obat tidur. Loyalitas dan ketekunan Prof. William C Dement dalam meneliti tidur dan gangguan tidur tersebut membuatnya dikenal sebagai Bapak Kedokteran Tidur.







0 comments:
Posting Komentar