Mungkin tidak semua dari kita yang merasakan kecanduan dari rokok, tapi kebanyakan dari kita tahu apa yang ditimbulkan oleh rokok jika telah mencobanya.
Dewasa ini orang yang mengonsumsi rokok setiap harinya selalu meningkat, bahkan angka peningkatan itu didukung sekali oleh para pelajar indonesia yang semestinya mendukung pelajaran disekolahnya. lingkungan yang tidak sehat memang sangat susah dihilangkan secara cepat karena dengan kehidupan yang serba konsumtif seperti yang sekarang ini orang-orang jarang sekali ingin berusaha keras dan hanya mau hidup bersantai-santai saja--seperti selogan pada salah satu rokok--"enjoy aja."
Orang-orang yang telah kecanduan dengan rokok sangat mendambakan agar dapat keluar dari jeratan musuh berdarang dingin ini. Karena kerugiannya yang begitu jelas seperti akan membuat sesak napas, paru-paru bermasalah, serangan jantung hingga kantong menjadi kering. Tapi banyak yang tidak bisa untuk melepaskan jeratan rokok ini. Ada apa dengan ini semua?
Kita disini memiliki suatu tujuan demi tujuan. Kita selalu ingin memulai tujuan itu dengan sebaik mungkin. Jika tujuan yang diinginkan adalah berhenti merokok maka hal itu harus secepatnya terpenuhi agar tujuan yang sedang mengantri dibelakangnya bisa lancar juga. Tapi apa jadinya jika tujuan berhenti merokok tidak terealisasi secara cepat? maka akan terjadi beberapa kesalahan didalam pribadi dan prinsip semangat.
Tak ada yang bisa kita salahkan tentang rokok, kita tidak bisa menyalahka orang yang menjualnya, pabrik yang memproduksinya, atau para marketing yang memasarkannya. Semuanya memang ada pada kita karena kita adalah pemegang utama kendali diri.
Memang tidak mudah untuk berhenti merokok, jutaan orang didunia mempunyai pandangan dan cara berpikir yang berbeda pula. Ada orang yang cuma dengan memakan cokelat maka kecanduan dengan rokok akan segera hilang dan ada juga yang sebaliknya hanya dengan memakan cokelat maka kecanduan dengan rokok malah semakin bertambah besar. Sunggu unik manusia yang kecanduan dengan rokok ini, bahkan orang yang sudah kecanduan sekali rela mengganti sebungkus nasi dengan sebungkus rokok. Ironis.
Saya tidak perlu munafik menulis ini semua, saya juga pernah mengalami hal seperti itu. Berbagai cara telah dilakukan saat itu tapi tidak mendapatkan yang didambakan. Ternyata hal yang menyulitkan itu ada pada diri saya sendiri, bukannya tidak pernah tersadari tapi untuk melakukannya tidak semudah yang dibayangkan.
Sekarang rokok telah menjadi sahabat dari jauh yang hanya bisa disapa dengan lambaian tangan saja dan bukan ciuman dari bibir yang biasa di lakukan setiap hari bahkan setiap ada waktu luang dan tempat yang aman pula.
Keluarga. Ternyata dampak keluarga dalam kehidupan dan mental memang sangat besar pengaruhnya, hanya dengan membayangkan betapa sulitnya orang tua mencari uang untuk saya tapi saya hanya membakarnya saja. Betapa miris hati seorang manusia jika benar-benar merenungkan hal yang seperti itu. Saya tidak menyesal karena pernah menjadi perokok, karena bagaimanapun disesali waktu tak akan kembali tapi saya menyesal karena tidak keras memikirkan hal yang seperti ini sebelumnya.
Sekarang untuk saudaraku, mari kita patahkan keinginan untuk merokok karena ada hal yang lebih baik daripada sekedar untuk menelan asap yang tidak berguna itu. Orang-orang yang mencintai kita sedang menunggu kita di villa kebahagiaan sedang menanti uluran tangan kita untuk merangkulnya kepada kebahagiaan yang lebih tahan lama dan sehat. Sangat banyak yang kita dapatkan dengan tidak merokok. Karena merokok tak beri kita banyak prestasi tapi hanya beri kita angan-angan yang semu.
Stop merokok ! Stop Kemiskinan !
-Ardi Koto_
facebook : Ardi Koto Ibnul Yurnil
Twitter : @ardi_hookokuru









0 comments:
Posting Komentar