Pages

Sabtu, 26 Februari 2011

Segelas Susu

SUATU hari, seorang anak lelaki miskin yang hidup sebagai pedagang asongan dari pintu ke pintu biasanya dilakukan di kompleks-kompleks Rumah Dinas-kehabisan uang. Kondisinya saat itu sangat lapar. Anak lelaki tersebut memutuskan untuk meminta makanan dari rumah berikutnya. Akan tetapi, dia kehilngan keberanian saat seorang ibu mu-istri pejabat- membuka pintu. Anak itu tidak jadi meminta makanan, ia hanya berani meminta segelas air. Ibu muda tersebut melihat dan berpikir bahwa anak lelaki itu pastilah lapar.
         Oleh karena itu, ia membawakan segelas besar susu. Kemudian, anak lelaki tersebut minum dengan "lahap"-nya dan bertanya, "Berapa saya harus membayar untuk segelas besar susu ini?"
         Ibu itu menjawab, "Kamu tidak perlu membayar apa pun, orangtua kami dulu mengajarkan untuk tidak menerima bayaran jika melakukan suatu kebaikan, "kata ibu itu menambahkan.
         Sambil menghabiskan susunya anak lelaki tersebut berkata dalam hatinya : "Dari hatiku
 yang terdalam, aku sangat simpati pada ibu yang berbaik hati ini, dia tidak sombong sekalipun istri pejabat!"
         Beberapa puluh tahun kemudian, ibu muda dahulu (yang kini sudah agak lanjut usianya) mengalami sakt yang sangat kritis. Balai pengobatan sudah tidak mampu lagi mengobati penyakit komplikasinya, apalagi saat ini ia berstatus janda seorang pensiunan kereta api. Atas saran keluarganya, si wanita ini dipindahkan ke Rumah Sakit Umum Pemerintah yag ada di kota tersebut untuk diobservasi. Namun, tetap saja tidak bisa diobati. Akhirnya, dengan menjual barang-barang tersisa dan atas bantuan rekan-rekan sesama janda pensiunan, si wanit amuda mampu mengobati penyakit komplikasinya itu.
         Dr. Sobur Nurjaman Ali dipanggil untuk melakukan pemeriksaan. Pada saat ia mendengar nama kota asal si ibu tersebut, terbersit seberkas pancaran aneh pada mata dr. sobur. Segera ia bangkit mengenakan jubah dokternya dan bergegas turun melalui aula rumah sakit menuju kamas si wanita tersebut. Ia langsung mengenali wanita itu dengan sekali pandang.
         Dr. Sobur kemudian kembali ke ruang konsultasi dan memutuskan untuk melakukan srangkaian medical check up total serta terapi-terapi medis lainnya.
         "Pokoknya, ibu tersebut harus sembuh," demikian obsesinya. Mulai hari itu, si ibu yang tergolek lemah tersebut menjadi perhatian Dr. Sobur dengan kasih yang tulus. Memasuki bulan ketiga di rumah sakit tersebut ternyata si ibu benar-benar sembuh.
         Lalu, Dr. Sobur meminta bagian keuangan rumah sakit untuk mengirimkan seluruh tagihan biaya pengobatan kepadanya guna persetujuan. Dr. Sobur melihatnya, dan menuliskan sesuatu pada pojok atas lembar tagihan tersebut. Ia sangat yakin bahwa ibu ini tidak akan mampu membayar tagihan tersebut walaupun harus dicicil seumur hidupnya. Bisnis yang dirintis bersama sang suami (almarhum) ketika memasuki pensiun gagal karena ditipu orang, demikian cerita si ibu kepada Dr. Sobur beberapa waktu lalu. Hal ini pula yang membuat ia jatuh miskin, dengan seorang anak yang saat ini juga pengangguran.
         Lembar tagihan akhirnya sampai ke tangan ibu yang malang itu. dengan rasa was-was ia memberanikan diri membaca tagihan yang disodorkan bagian keuangan. di sana tertera rincian biaya yang dikeluarkan selama ia menjalani pengobatan. akan tetapi, ada sesuatu yang menarik perhatiannya pada pojok atas lembar tagihan tersebut. Ia membaca tulisan yang berbunyi : "Telah dibayar lunar dengan segelas besar susu!" Tertanda : Dr. Sobur Nurjaman Alil. :')

0 comments:

Posting Komentar